PPh 21 vs PPh 23 — Beda Pajak Karyawan & Freelancer
Pemotongan pajak untuk gaji vs jasa profesional
| Aspek | PPh 21 | PPh 23 |
|---|---|---|
| Untuk siapa | Karyawan tetap & kontrak | Freelancer, profesional, jasa |
| Tarif | Progresif 5-35% (atau TER) | Final 2% (jasa) / 15% (royalti, sewa) |
| Yang potong | Perusahaan/HR | Klien (pengguna jasa) |
| Final / Tidak final | Tidak final (lapor SPT tahunan) | Final (sudah selesai) |
| PTKP applies? | Ya, dipotong dulu | Tidak (langsung × tarif) |
| Wajib NPWP? | Ya (jika gaji >PTKP) — kalau tidak: tarif 20% lebih tinggi | Ya — kalau tidak: tarif 100% lebih tinggi |
| Sistem | TER (Tarif Efektif Rata-rata) sejak 2024 | Flat per jenis penghasilan |
| Bisa kredit pajak? | Iya, di SPT tahunan | Tidak (sudah final) |
✦ Verdict
PPh 21 untuk karyawan (HR yang potong). PPh 23 untuk freelancer/jasa (klien yang potong). Kalau Anda freelancer dengan klien beragam: PPh 23 dipotong klien, plus lapor SPT tahunan untuk hitung kewajiban total.
Pilih PPh 21 kalau...
Untuk gaji karyawan (PKWT/PKWTT). Otomatis dipotong HR setiap gajian. Akhir tahun: HR keluarkan bukti potong 1721-A1 untuk lampiran SPT.
Pilih PPh 23 kalau...
Untuk freelancer/profesional (jasa konsultan, designer, writer, dll). Klien WAJIB potong PPh 23 (2% jasa) sebelum bayar. Anda dapat bukti potong 1721-VI.